Jakarta - Aksi kejahatan di dunia maya (cybercrime) menjadi masalah yang
menghebohkan banyak pihak dalam tiga tahun terakhir, menyusul makin
banyak konsumen dan perusahaan yang mengekspos data berharga seperti
rencana bisnis, nomor kartu kredit, dan informasi perbankan di Internet.
Aktivitas kejahatan cyber ini juga semakin terorganisir layaknya sebuah perusahaan. Banyak kelompok kejahatan cyber yang gencar memanfaatkan internet untuk merekrut karyawan baru. Kelompok-kelompok ini memasang iklan di internet guna menjaring kandidat pelaku kejahatan cyber.
Kandidat yang dicari tentu saja mereka yang bersedia menyebarkan malware (program berbahaya), lalu mendomplenginya dengan sesuatu yang berpotensi di-klik pengguna internet -- seperti misalnya gambar Britney Spears sedang keluar dari mobilnya. Malware ini nantinya dapat mencuri nomor kartu kredit dari komputer pribadi, bahkan "menguras" Kening bank korban.
Menurut Kevin Stevens, analis di SecureWorks, ada beberapa perusahaan yang tercatat melakukan perekrutan online. Untuk setiap 1.000 malware yang di-download, para pekerja kejahatan cyber ini akan mendapatkan bayaran sebesar US$ 180. Pembayaran gaji pekerja dilakukan lewat WebMoney, PayPal, e-gold, Western Union, ePassporte, dan MoneyGram.
Stevens mengatakan, mustahil untuk mengetahui berapa banyak komputer yang terinfeksi melalui perusahaan- perusahaan "gelap" ini, apalagi jika tidak tahu bagaimana kelompok-kelompok ini beroperasi. Namun jumlah komputer yang terinfeksi diperkirakan bisa mencapai angka jutaan.
Dilansir Daily Tech, FBI mengklaim kejahatan cyber ini merupakan bisnis yang bernilai jutaan dolar, yang akan terus menarik lebih banyak pelaku kejahatan cyber. Ditambah lagi dengan iming-iming kemudahan mendapatkan uang lebih cepat, dan peluang tertangkap oleh aparat lebih kecil. FBI memperkirakan kerugian yang diderita akibat kejahatan cyber ini telah mencapai $ 264 juta pada tahun 2008.
Para analis keamanan percaya bahwa kejahatan cyber akan terus berevolusi menjadi ancaman yang lebih serius, khususnya untuk grup-grup kejahatan terorganisir yang berbasis di China, Rusia dan Eropa Timur yang kian tumbuh.
Sumber : mls/mar